Tanoto Foundation Membantu Pengelolaan Sampah Di Jambi

Ada pepatah yang mengatakan “sedikit demi sedikit lama – lama menjadi bukit”. Pepatah tersebut bisa menggambarkan keberadaan sampah yang semakin hari semakin menggunung, dan tidak lain bisa dianggap remeh keberadaannya. Sampah sering sekali menjadi masalah besar apabila tidak segera ditangani dengan baik. Salah seorang pebisnis sukses asal Indonesia yang bernama Sukanto Tanoto menyadari hal tersebut dan berinisiatif untuk mengajari cara mengelola sampah yang baik dan benar, lewat Tanoto Foundation yang didirikannya bersama istrinya, Tinah Bingei Tanoto.

Perlu untuk diketahui bahwa pada dasarnya salah satu sumber sampah adalah kawasan perumahan. Menurut data yang didapatkan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sampah rumah tangga malah menjadi sumber sampah yang terbesar. Bayangkan saja, dari jumlah timbunan sampah nasional per harinya yang ditaksir mencapai angka 200 ribu ton, sebanyak 48% diantaranya adalah sampah rumah tangga. Oleh sebab itu, pengelolaan sampah di kawasan perumahan ini jadi sangat vital sekali. Akan tetapi yang terjadi biasanya hanya penimbunan sampah saja di TPA atau Tempat Pembuangan Akhir. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh KLHK, ada sekitar 69% dari total sampah rumah tangga di tampung di TPA. Sisanya lagi hanya 7% yang didaur ulang, sementara itu yang lainnya dikubur, dibakar, atau justru tidak dikelola dengan baik.

Jika terus seperti ini, jelas sampah akan terus jadi masalah. Makanya, warga yang tinggal di perumahan khususnya, perlu diajari cara untuk mengelola sampah yang baik dan benar. Bahkan mereka wajib dilatih untuk bisa memanfaatkan sampah – sampah jadi sumber penghasilan baru.

Tanoto Foundation Membantu Pengelolaan Sampah Di Jambi

Tanoto Foundation melakukan kegiayannya di di kawasan perumahan karyawan PT. Inti Indosawit Subur (PT IIS) yang ada di Jambi. Bekerja sama dengan PT IIS, Tanoto Foundation memberikan pelatihan kepada warga untuk membuka bank sampah. Sebagai pelatih, Tanoto Foundation dalam naungan Sukanto Tanoto tersebut akan menghadirkan pelaku bank sampah yang telah berhasil dari Jakarta, yakni Niniek Nuryanto. Ia adalah Ketua Pengurus Bank Sampah Jakarta Selatan yang menjadi percontohan di DKI Jakarta.

Bentuk dari kegiatan Tanoto Foundation tersebut adalah dengan mengajari warga cara memilah sampah yang baik dan benar, yakni jenis sampah organik dan anorganik. Tidak hanya mengajarkan teorinya saja, warga juga akan diminta untuk praktik langsung dan menjadikannya kebiasaan dalam kehidupan sehari – hari. Sebagai tindak lanjut, warga membentuk bank sampah KUBE atau Kelompok Usaha Bersama yang dikelola oleh Suraji. Bank sampah tersebut pada akhirnya jadi penampungan sejumlah sampah yang bernilai ekonomis, seperti kardus, botol plastik, styrofoam, dan kertas.

Setelah ditampung, sampah yang terkumpul ini lalu dijual ke pengepul yang sudah jadi mitra KUBE Perum PT. IIS. Kerja sama tersebut sudah terjalin sejak awal tahun 2015 lalu dengan omzet sekitar Rp 2 juta rupiah per bulan. Walaupun demikian, ini bukan nilai dari hasil penjualan sampah yang jadi indikator keberhasilan. Kemampuan warga dalam mengubah kebiasaan mengelola sampah adalah tujuan utama dari kegiatan yang dilakukan oleh Sukanto Tanoto lewat Tanoto Foundation tersebut. Sementra itu, bagi PT. IIS sendiri hal itu juga jadi perwujudan semangat perusahaan peduli lingkungan yang ingin disebarkan. Hal ini sudah digariskan Sukanto Tanoto dalam semua perusahaannya, tidak terkecuali PT. IIS. Pengelolaan sampah ini pastinya juga akan mendatangkan pundi – pundi bagi warga itu sendiri.